Manusia Koma (,)
Bukanlah yang Sempurna
Suatu ketika pernah aku memikirkan betapa
berharganya diriku bagi orang lain. Adanya diriku mampu memberikan suatu yang
bermanfaat untuknya. Tiap orang yang aku temui, yang mengajakku berbicara,
berbagi cerita dan meminta pertolonganku selalu aku layani dengan sepenuh hati
namun juga terkadang sering berharap kelak mereka juga mau untuk membantuku
saat aku butuh.
Seiring berjalannya waktu aku mencederai
momen itu. Aku terlalu banyak berharap dari mereka. Saat aku bisa melakukan
apapun untuk mereka dan aku berusaha semaksimal mungkin, namun mereka tak mampu
membantuku sedikit pun. Apa yang mereka lakukan tak sesuai dengan harapan yang
aku inginkan. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan selalu di bawahku. Aku muak,
jengkel, marah hingga kata-kata yang tak
sepantasnya aku katakan menghujam deras dari mulutku.
Hal tersebut berlangsung begitu lama. Dari
hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan pun menjadi tahun tahun
yang berat bagiku untuk menerimanya. Mengapa mereka tak bisa melakukan seperti
yang bisa aku lakukan untuk mereka? Sebodoh inikah mereka hingga tak mampu
memenuhi standar yang aku tetapkan? Tak adakah upaya yang mereka lakukan untuk
menyamai denganku? Apa yang selama ini mereka lakukan? Dan banyak lagi
pertanyaan yang mengganggu hati kecilku.
Setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak
karena selalu dihantui pertanyaan-pertanyaan itu. Aku coba bercerita kepada
teman yang aku anggap sama denganku walaupun aku kadang merasa dia pun masih di
bawahku. Mulai sore hingga dini hari kami coba menguliti setiap cerita yang aku
utarakan. Dia menyadari bahwa memang banyak yang tak sesuai dengan standarnya
maupun standarku. Dia juga merasakan bahwa orang di sekitarnya belum mampu
memenuhi harapannya. Diskusi berlangsung tanpa solusi. Kami hentikan diskusi
dan memilih untuk membahas permasalahan (tak pantas disebut masalah sebenarnya)
karena merasa obrolan yang disampaikan terlalu berat.
Hingga kami mendapatkan AHA Moment (keadaan dimana mendapatkan
ide secara tiba-tiba) yaitu dengan membuat konflik dengan mereka yang berada di bawah standar kami. Kami
mendramatisasi masalah sepele dan akhirnya kami menggunakan persona (bukan
menjadi diri sendiri) agar membuat mereka lebih tidak menyukai kami. Mereka
yang tidak mengetahui tujuan utama kami menganggap kami kekanak-kanakan. Namun
tak apalah, paling tidak ada yang menyadari adanya suatu masalah. Kami pun tak
mau kalah, kami gunakan sosial media untuk menyebarkan perkataan yang mampu
membuat mereka semakin jengkel kepada kami.
Ketika bertemu dengan mereka, kami pun
bergaya angkuh dalam berjalan dan sombong dalam berbicara. Hampir 5 hari hal
tersebut berjalan. Apa yang kami harapkan ternyata tidak terjadi. Kami berharap
mereka menyadari adanya masalah yang terjadi dan tak hanya disadari oleh
beberapa orang. Menjadi orang lain
ternyata tidaklah mudah. Aku yang notabene belum sepenuhnya mampu untuk sabar
mencoba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada beberapa teman yang
lain yang aku rasa mau mendengarnya. Aku mengajak mereka untuk membuat siasat
agar menyadarkan yang lain. Mereka menyetujui namun ada beberapa yang masih
bingung dan memilih diam dalam pembuatan siasat tersebut. Namun ada satu orang yang
benar-benar berani untuk melakukannya.
Keesokan harinya siasat kami pun
dijalankan. Awalnya tampak keraguan yang terlihat di raut wajahnya. Namun dia
memberanikan diri untuk memainkan sandiwara siasat tersebut. Ketika dia mulai
berbicara keadaan mulai sunyi, sepi, senyap, suara sayup sayup, percakapan
hilang dan tertuju padanya. Drama dimulai. Satu orang mulai mengelupasi
permasalahan yang terjadi. Dia merupakan korban gosip miring yang terjadi
akibat kesalahan sepele yang dilakukannya. Namun, karena memang dia orangnya
keras dan acuh dia tak mau kalau dia dianggap sebagai sumber pembawa masalah.
Dia menceritakan bahwa ketika di belakangnya banyak
yang mencibir dan memakinya, namun ketika di depannya seakan tak ada masalah
dengannya. Saat ada yang memberikan respons terhadap pernyataannya, ada satu
orang yang nyeletuk tertawa melecehkan pendapat itu. Ini momen yang tepat untuk
memberikan pukulan telak. Temanku yang peka terhadap momen ini mulai
mengadilinya. Dia mulai membuka tabiat aslinya. Marah dengan kondisi tersebut.