Monday, 22 February 2016

Manusia Koma (,)

Bukanlah yang Sempurna

Suatu ketika pernah aku memikirkan betapa berharganya diriku bagi orang lain. Adanya diriku mampu memberikan suatu yang bermanfaat untuknya. Tiap orang yang aku temui, yang mengajakku berbicara, berbagi cerita dan meminta pertolonganku selalu aku layani dengan sepenuh hati namun juga terkadang sering berharap kelak mereka juga mau untuk membantuku saat aku butuh.
Seiring berjalannya waktu aku mencederai momen itu. Aku terlalu banyak berharap dari mereka. Saat aku bisa melakukan apapun untuk mereka dan aku berusaha semaksimal mungkin, namun mereka tak mampu membantuku sedikit pun. Apa yang mereka lakukan tak sesuai dengan harapan yang aku inginkan. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan selalu di bawahku. Aku muak, jengkel, marah hingga kata-kata yang  tak sepantasnya aku katakan menghujam deras dari mulutku.
Hal tersebut berlangsung begitu lama. Dari hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan pun menjadi tahun tahun yang berat bagiku untuk menerimanya. Mengapa mereka tak bisa melakukan seperti yang bisa aku lakukan untuk mereka? Sebodoh inikah mereka hingga tak mampu memenuhi standar yang aku tetapkan? Tak adakah upaya yang mereka lakukan untuk menyamai denganku? Apa yang selama ini mereka lakukan? Dan banyak lagi pertanyaan yang mengganggu hati kecilku.
Setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak karena selalu dihantui pertanyaan-pertanyaan itu. Aku coba bercerita kepada teman yang aku anggap sama denganku walaupun aku kadang merasa dia pun masih di bawahku. Mulai sore hingga dini hari kami coba menguliti setiap cerita yang aku utarakan. Dia menyadari bahwa memang banyak yang tak sesuai dengan standarnya maupun standarku. Dia juga merasakan bahwa orang di sekitarnya belum mampu memenuhi harapannya. Diskusi berlangsung tanpa solusi. Kami hentikan diskusi dan memilih untuk membahas permasalahan (tak pantas disebut masalah sebenarnya) karena merasa obrolan yang disampaikan terlalu berat.
Hingga kami mendapatkan AHA Moment (keadaan dimana mendapatkan ide secara tiba-tiba) yaitu dengan membuat konflik dengan mereka yang  berada di bawah standar kami. Kami mendramatisasi masalah sepele dan akhirnya kami menggunakan persona (bukan menjadi diri sendiri) agar membuat mereka lebih tidak menyukai kami. Mereka yang tidak mengetahui tujuan utama kami menganggap kami kekanak-kanakan. Namun tak apalah, paling tidak ada yang menyadari adanya suatu masalah. Kami pun tak mau kalah, kami gunakan sosial media untuk menyebarkan perkataan yang mampu membuat mereka semakin jengkel kepada kami.
Ketika bertemu dengan mereka, kami pun bergaya angkuh dalam berjalan dan sombong dalam berbicara. Hampir 5 hari hal tersebut berjalan. Apa yang kami harapkan ternyata tidak terjadi. Kami berharap mereka menyadari adanya masalah yang terjadi dan tak hanya disadari oleh beberapa orang.  Menjadi orang lain ternyata tidaklah mudah. Aku yang notabene belum sepenuhnya mampu untuk sabar mencoba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada beberapa teman yang lain yang aku rasa mau mendengarnya. Aku mengajak mereka untuk membuat siasat agar menyadarkan yang lain. Mereka menyetujui namun ada beberapa yang masih bingung dan memilih diam dalam pembuatan siasat tersebut. Namun ada satu orang yang benar-benar berani untuk melakukannya.
Keesokan harinya siasat kami pun dijalankan. Awalnya tampak keraguan yang terlihat di raut wajahnya. Namun dia memberanikan diri untuk memainkan sandiwara siasat tersebut. Ketika dia mulai berbicara keadaan mulai sunyi, sepi, senyap, suara sayup sayup, percakapan hilang dan tertuju padanya. Drama dimulai. Satu orang mulai mengelupasi permasalahan yang terjadi. Dia merupakan korban gosip miring yang terjadi akibat kesalahan sepele yang dilakukannya. Namun, karena memang dia orangnya keras dan acuh dia tak mau kalau dia dianggap sebagai sumber pembawa masalah.
Dia menceritakan bahwa ketika di belakangnya banyak yang mencibir dan memakinya, namun ketika di depannya seakan tak ada masalah dengannya. Saat ada yang memberikan respons terhadap pernyataannya, ada satu orang yang nyeletuk tertawa melecehkan pendapat itu. Ini momen yang tepat untuk memberikan pukulan telak. Temanku yang peka terhadap momen ini mulai mengadilinya. Dia mulai membuka tabiat aslinya. Marah dengan kondisi tersebut.